PEMAHAMAN DASAR KOMUNIKASI ORGANISASI
BAB I
KONSEP-KONSEP DASAR KOMUNIKASI
Definisi Komunikasi
Komunikasi merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Manusia sebagai makhluk sosial dan memerlukan hubungan dengan orang lain, dengan berkomunikasi manusia bisa berhubungan dengan orang lain. Komunikasi sering dilakukan dan merupakan kebutuhan yang mendasar bagi manusia, karena hampir setiap saat dalam kehidupan dibutuhkan berkomunikasi antar individu hingga kelompok. Komunikasi membentuk sistem sosial yang saling membutuhkan proses atau tindakan yang satu dengan yang lainnya. Komunikasi merupakan proses atau tindakan dalam menyampaikan pesan dari pengirim kepada penerima melalui suatu media (West & Turner, 2008). Komunikasi adalah sebuah proses penyampaian informasi dari satu orang kepada orang lain yang bertujuan memberitahu, berpendapat, merubah sikap dan perilaku secara keseluruhan baik secara langsung maupun tidak langsung (Zen, 2013).
Istilah komunikasi atau dalam bahasa inggris communication berasal dari kata Latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama yang dimaksud adalah “sama makna” (Effendy, 2007). Ada beragam definisi dari komunikasi yang dikemukakan para ahli dan pakar dan tidak ada definisi yang benar ataupun salah karena telah disesuaikan dengan bidang dan tujuan masing-masing. Berikut adalah definisi-definisi komunikasi dari beberapa sumber.
Bernard Berelson & Gary A. Steiner
“Komunikasi adalah transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan, dan sebagainya, dengan menggunakan simbol-simbol (kata-kata, gambar, figur, grafik, dan sebagainya). Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi.”
Carl I. Hovland
“Komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain (komunikate).”
Gerald R. Miller
“ Komunikasi terjadi ketika suatu sumber menyampaikan suatu pesan kepada penerima dengan niat yang disadari untuk mempengaruhi perilaku penerima.”
Mary B. Cassata & Molefi K. Asante
“(Komunikasi adalah) transmisi informasi dengan tujuan mempengaruhi khalayak.”
Harold Lasswell
“(Cara yang baik untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut) Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect?” Atau Siapa Mengatakan Apa Dengan Saluran Apa Kepada Siapa Dengan Pengaruh Bagaimana?
Berdasarkan definisi Lasswell ditemukan lima unsur turunan komunikasi yang saling bergantung satu sama lain, yakni: (1) Sumber (source), atau yang sering disebut dengan pengirim (sender) atau komunikator (communicator). Sumber boleh jadi seorang individu, kelompok, organisasi, perusahaan, bahkan suatu negara. Untuk menyampaikan apa yang akan disampaikan (perasaan atau pikiran), sumber harus mengubah hal tersebut ke dalam seperangkat simbol verbal atau nonverbal yang idealnya dipahami oleh penerima pesan. Proses inilah yang disebut sebagai penyandian (encoding). (2) Pesan, yaitu hal yang akan dikomunikasikan oleh sumber kepada penerima. Pesan merupakan seperangkat simbol verbal dan/atau nonverbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan atau maksud sumber tadi. Pesan memiliki tiga komponen: makna, simbol yang digunakan untuk menyampaikan pesan, dan bentuk atau organisasi pesan. (3) Kemudian unsur saluran atau media, yakni alat atau wahana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya kepada penerima. (4) Penerima (receiver) atau sering disebut dengan komunikan, adalah orang yang menerima pesan dari sumber. Penerima pesan akan menerjemahkan atau menafsirkan seperangkat simbol verbal atau nonverbal yang diterima menjadi gagasan yang dapat dipahami. Proses tersebut disebut dengan penyandian-balik (decoding). (5) Unsur kelima yaitu efek, yaitu apa yang terjadi pada penerima setelah ia menerima pesan tersebut, misalnya penambahan pengetahuan (dari tidak tahu menjadi tahu), terhibur, perubahan sikap, perubahan keyakinan, perubahan perilaku, dan lain sebagainya.
Model Komunikasi
Model Komunikasi merupakan deskripsi ideal mengenai apa yang dibutuhkan untuk terjadinya komunikasi. Para pakar lazim merancang model-model komunikasi dengan menggunakan serangkai blok, segi empat, lingkaran, panah, garis, spiral, dan sebagainya untuk mengidentifikasi komponen-komponen, variabel-variabel atau kekuatan-kekuatan yang membentuk komunikasi dan menyarankan atau melukiskan hubungan di antara komponen-komponen tersebut.
Komunikasi sebagai Aksi: Model Linear
Pada tahun 1949, Claude Shannon, seorang ilmuwan Bell Laboratories dan profesor di Massachusetts Institute of Technology, dan Warren Weaver, seorang konsultan pada sebuah proyek di Sloan Foundation, mendeskripsikan komunikasi sebagai proses yang linear. Mereka tertarik pada teknologi radio dan telepon dan ingin mengembangkan suatu model yang dapat menjelaskan bagaimana informasi melewati berbagai saluran (channel). Hasilnya yaitu konseptualisasi dari model komunikasi linear (linear communication model).
Pada model atau pendekatan ini dijelaskan bahwa penerima menjadi orang yang akan mengartikan pesan yang dia dapatkan. Semua dari komunikasi ini terjadi dalam sebuah saluran (channel), yang merupakan jembatan untuk berkomunikasi. Komunikasi juga melibatkan gangguan (noise) yang merupakan semua hal yang tidak dimaksudkan oleh sumber informasi, dimana gangguan tersebut dapat berupa gangguan semantik atau pengaruh linguistik dalam penerimaan pesan, gangguan fisik (eksternal), gangguan psikologis, dan/atau gangguan fisiologis yaitu pengaruh biologis dalam penerimaan pesan. Walaupun pandangan mengenai proses komunikasi model ini sangat dihargai dalam beberapa tahun, namun pendekatan ini bersifat terbatas dalam alasan tertentu, salah satunya, model ini berasumsi bahwa hanya ada satu pesan dalam proses komunikasi. Model Shannon dan Weaver dapat diterapkan kepada konteks-konteks komunikasi lainnya seperti komunikasi antarpribadi, komunikasi publik atau komunikasi massa. Akan tetapi, model ini juga memberikan gambaran yang parsial mengenai proses komunikasi, dan komunikasi juga dipandang sebagai fenomena yang statis dan satu arah. Tidak ada konsep umpan balik atau transaksi yang terjadi dalam penyandian dan penyandian-balik dalam model ini.
Komunikasi sebagai Interaksi: Model Interaksional
Pada model sebelumnya diasumsikan bahwa seseorang hanyalah pengirim atau penerima. Hal tersebut adalah pandangan yang sempit dalam memandang sebuah proses komunikasi. Oleh karena itu, Wilbur Schramm (1954) mengemukakan bahwa kita juga harus mengamati hubungan antara seorang pengirim atau sumber dan penerima atau komunikan. Schramm menggambarkannya dalam sebuah model yang disebut dengan model komunikasi interaksional, dimana model ini menekankan proses komunikasi dua arah di antara para komunikator. Dengan kata lain, komunikasi berlangsung dua arah: dari pengirim kepada penerima dan dari penrima kepada pengirim. Lingkaran proses ini menggambarkan bahwa komunikasi selalu berlangsung tanpa henti atau terus-menerus.
Dalam model Schramm ini dijelaskan bahwa sumber dapat menyandi dan sasaran atau penerima dapat menyandi balik pesan yang telah ia terima. Proses kembalinya pesan dalam model ini disebut sebagai umpan balik (feedback). Elemen ini memainkan peran penting dalam komunikasi, karena dengan adanya umpan balik akan memberitahu bagaimana pesan tersebut dimaknai oleh penerima. Selain elemen umpan balik, bidang pengalaman juga mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berkomunikasi dengan satu sama lain. Singkatnya model ini merupakan model komunikasi antara komunikator dan komunikan yang saling berinteraksi untuk menjalankan proses komunikasi.
Sama halnya dengan model linear, model interaksional juga mendapat kritik, dimana kritik tersebut berkaitan dengan umpan balik. Bagaimana jika pesan yang disampaikan adalah nonverbal? bagaimana bentuk umpan baliknya? Dalam sebuah interaksi ibu dan anak contohnya, ketika ibunya sedang memarahi anaknya karena perilaku nonverbal anaknya. Apakah umpan balik dari sang anak adalah tertawa? Atau sedih? Atau apakah dia mendengarkan perkataan ibunya? Atau malah mengalihkan pembicaraan? Pandangan interaksional berasumsi bahwa dua orang berbicara dan mendengarkan, tetapi tidak dalam saat yang bersamaan.
Komunikasi sebagai Transaksi: Model Transaksional
Dari kritik model interaksional memunculkan model komunikasi lainnya yaitu model transaksional. Dalam model interaksional, makna dicapai melalui umpan balik, sedangkan model transaksional, orang membangun kesamaan makna. Apa yang dikatakan oleh orang dalam sebuah transaksi pesan atau informasi sangat dipengaruhi atas dasar pengalamannya (West & Turner, 2007).
Model transaksional adalah model komunikasi yang memperlihatkan suatu proses komunikasi dua arah, antara komunikator dan komunikan. Pada model ini proses komunikasi tidak hanya dilihat sebagai kegiatan pertukaran pesan semata, akan tetapi juga memiliki peran untuk membangun suatu hubungan atau melakukan transaksi makna. Selain itu, pada model ini memaksa setiap orang untuk memahami bidang pengalamannya sendiri ke dalam kehidupan kesehariannya. Model transaksional mengasumsikan unsur timbal balik atau pemaknaan makna yang selaras.
Komponen Dasar Komunikasi
Proses komunikasi melibatkan banyak faktor atau komponen. Faktor-faktor atau unsur yang dimaksud antara lain meliputi pengirim pesan, isi pesan, saluran atau media yang digunakan, dan penerima pesan
Pengirim Pesan / Komunikator
Komunikator adalah seorang yang mengirimkan pesan atau informasi. Komunikator dapat berwujud seseorang atau lembaga sebagai pengirim atau pemberi pesan. Komunikator juga dapat disebut sebagai informan atau sumber asal pesan yang disampaikan terhadap penerima pesan (Handayani, 2023).
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika seseorang menjadi komunikator (Nurdin et al., 2013):
Penampilan
Seorang komunikator harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan komunikan. Penampilan ini sesuai dengan tata krama dengan memperhatikan keadaan, waktu, dan tempat.
Penguasaan Masalah
Seorang yang tampil atau ditampilkan sebagai komunikator haruslah betul-betul menguasai masalahnya. Dalam suatu proses komunikasi timbal balik, yang lebih menguasai masalah akan cenderung memenangkan tujuan komunikasi.
Penguasaan Bahasa
Komunikator juga harus dapat menguasai bahasanya dengan baik. Bahasa yang digunakan harus dapat dipahami oleh komunikan, seperti menggunakan istilah-istilah umum yang digunakan oleh lingkungan tertentu. Tanpa penguasaan bahasa yang baik dapat memunculkan kesalahan dalam pemaknaan atau dapat menimbulkan ketidakpercayaan terhadap komunikator.
Pesan
Pesan adalah keseluruhan materi yang disampaikan oleh komunikator, baik secara lisan maupun secara tulisan atau menggunakan media dalam bentuk lainnya (Hendrayady et al., 2021). Pesan merupakan sesuatu yang disampaikan oleh komunikator atau pengirim kepada penerima. Pesan dapat berupa verbal atau nonverbal. Pesan verbal dapat secara tertulis seperti buku, surat, dan majalah, sedangkan pesan lisan dapat berupa dialog antar pribadi atau tatap muka, percakapan melalui telepon, radio, dan sebagainya. Pesan nonverbal dapat berupa gerakan badan, ekspresi raut wajah, dan intonasi suara (Silviani, 2020).
Saluran / Media
Saluran atau media adalah jalan yang dilalui pesan dari pengirim dengan penerima. Media yang dimaksud adalah alat yang digunakan untuk menyalurkan informasi kepada penerima. Dalam komunikasi massa, media adalah alat yang dapat menghubungkan antara komunikator atau sumber dan penerima yang bersifat terbuka sehingga orang bisa melihat, membaca, dan mendengar isi pesan tersebut. Ada berbagai macam media atau saluran dalam melakukan proses komunikasi, yakni terdapat media komunikasi seperti telepon, surat, dan telegram sebagai media komunikasi antarpribadi, kemudian media cetak dan elektronik sebagai media dalam komunikasi massa. Media-media ini akan terus bertambah dan beragam mengikuti perkembangan teknologi komunikasi seiring dengan berkembangnya zaman.
Penerima Pesan / Komunikan
Penerima pesan adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh komunikator. Penerima bisa seorang individu atau kelompok bahkan lembaga. Penerima pesan memiliki banyak istilah sebutan seperti khalayak, sasaran, komunikan, dan receiver atau audience. Komunikan yang efektif adalah komunikan yang bersikap jujur, penuh perhatian, kooperatif, serta bersikap terbuka terhadap komunikator (Handayani, 2023). Hal tersebut menjadikan komunikan sebagai aspek utama dalam proses komunikasi. Karena komunikanlah yang menjadi tujuan disampaikannya pesan. Ketika suatu pesan tidak diterima oleh penerima, maka akan menimbulkan berbagai macam masalah yang disebut sebagai efek atau pengaruh.
Efek / Pengaruh
Pengaruh atau efek adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh seorang komunikan ketika sebelum dan setelah menerima pesan. Pengaruh ini dapat terjadi pada pengetahuan, sikap, dan perilaku seseorang (De Fleur, 1982). Oleh karena itu pengaruh bisa juga diartikan perubahan atau penguatan keyakinan pada pengetahuan, sikap, dan perilaku seseorang sebagai akibat penerima pesan. Pengaruh dapat terjadi dalam bentuk perubahan pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), dan perilaku (behaviour).
Prinsip Komunikasi
(Mulyana, 2000) Prinsip-prinsip komunikasi juga diuraikan dengan berbagai cara oleh para pakar komunikasi. Prinsip-prinsip tersebut merupakan penjabaran lebih jauh dari definisi dan hakikat dari komunikasi.
Komunikasi adalah Proses Simbolik
Prinsip yang pertama adalah komunikasi sebagai suatu proses simbolik yang timbul dari dalam diri manusia. Lambang atau simbol digunakan untuk menunjukkan sesuatu lainnya berdasarkan beberapa kelompok orang, berupa pesan verbal maupun nonverbal yang maknanya telah disepakati bersama. Contoh lambang atau simbol nonverbal mengacungkan ibu jari yang bermakna “bagus” atas kesepakatan bersama.
Setiap Perilaku Mempunyai Potensi Komunikasi
Komunikasi bisa terjadi pada tiap perilaku. Hal ini dimaksudkan bahwa tiap orang bisa saja dimaknai sedang terlibat dalam proses komunikasi, meski tidak bermaksud untuk mengkomunikasikan sesuatu. Adanya gerak tubuh, ekspresi wajah, hingga kontak mata bisa dimaknai sebagai bentuk komunikasi oleh orang lain. Komunikasi dapat terjadi ketika seseorang memahami tingkah laku orang lain atau perilaku diri sendiri.
Komunikasi Memiliki Dimensi Isi dan Hubungan
Prinsip ini menjelaskan bahwa tiap pesan komunikasi mempunyai dimensi isi dimana dari dimensi isi tersebut kita dapat memprediksi dimensi hubungan yang ada di antara pihak-pihak yang melakukan proses komunikasi, sesuai dengan pelaku yang terlibat. Dimensi isi mewakili isi atau konten komunikasi, sedangkan dimensi hubungan mewakili pembicaraan dan isyarat, bagaimana pelaku komunikasi berinteraksi, dan bagaimana pesan tersebut diinterpretasikan.
Komunikasi Berlangsung dalam Berbagai Tingkat Kesengajaan
Komunikasi dapat terjadi dalam berbagai tingkat kesengajaan. Artinya prosesnya dapat terjadi tanpa direncanakan seperti dua orang yang menyapa di tengah jalan, atau proses yang direncanakan sedemikian rupa, seperti dalam bentuk rapat, seminar, atau aktivitas resmi lainnya.
Komunikasi Terjadi dalam Konteks Ruang dan Waktu
Pesan atau informasi yang dikirimkan oleh pihak komunikator disesuaikan dengan tempat dimana proses komunikasi itu berlangsung, kepada siapa pesan tersebut akan dikirimkan, dan kapan komunikasi itu berlangsung, sehingga memenuhi konteks ruang dan waktu tersebut.
Komunikasi Melibatkan Prediksi Peserta Komunikasi
Ketika seseorang sedang melakukan proses komunikasi, pasti akan meramalkan efek dari pesan yang disampaikan maksudnya adalah proses komunikasi terikat oleh aturan dan tata krama. Misalnya, saat kita menyapa seseorang, kita tentu mengharapkan orang itu menyapa balik. Hal ini juga sesuai dengan norma atau tata krama, kebiasaan, dan pola dalam berkomunikasi yang digunakan oleh para pelaku yang terlibat.
Komunikasi Bersifat Sistemik
KOmunikasi bersifat sistemik artinya cara seseorang untuk berkomunikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari latar belakang budaya, pola pikir, pendidikan, nilai, adat, dan pengalaman. Faktor eksternal seperti kondisi keluarga dan lingkungan juga turut berpengaruh pada komunikasi yang sistemik.
Komunikasi Lebih Efektif Ketika Latar Belakang Sosial Budaya Mirip
Ketika dua orang berkomunikasi berasal dari suku yang sama dan memiliki pendidikan yang sama, maka mereka cenderung menggunakan bahan komunikasi yang sama. Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang hasilnya sesuai dengan harapan para pelaku komunikasi yang terlibat. Namun, pada kenyataannya tidak ada orang yang persis sama, bahkan saudara kembar sekalipun. Akan tetapi, ketika terdapat sebuah kesamaan, orang akan tertarik satu sama lain dan kesamaan tersebut akan membuat komunikasi berjalan dengan lebih efektif.
Komunikasi Bersifat Nonsekuensial
Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang bersifat dua arah. Unsur-unsur komunikasi boleh jadi berjalan dalam suatu tatanan yang sifatnya linier, sirkuler, helikal atau yang lain sebagainya, tetapi mungkin pula setidaknya sebagian prosesnya berjalan dalam tatanan yang acak. Oleh karena itu, sifat nonsekuensial alih-alih sirkuler akan lebih tepat digunakan untuk menandai proses komunikasi.
Komunikasi Bersifat Prosesual, Dinamis, dan Transaksional
Prinsip bahwa komunikasi adalah suatu proses memiliki makna bahwa komunikasi bersifat dinamis dan transaksional, dimana terdapat proses dimana informasi disampaikan antara pelaku yang berkomunikasi. Dalam prosesnya, para pelaku komunikasi saling mempengaruhi dan bergantung, baik dalam komunikasi verbal maupun nonverbal.
Komunikasi Bersifat Irreversible
Suatu perilaku adalah suatu peristiwa. Oleh karena merupakan peristiwa, perilaku berlangsung dalam waktu dan tidak dapat “diambil kembali”. Sifat irreversible ini adalah implikasi dari komunikasi sebagai proses yang selalu berubah. Siapapun yang melakukan proses komunikasi tidak dapat mengendalikan dampak yang ditimbulkan oleh pesan yang telah disampaikan. Komunikasi tidak dapat dibatalkan. Ketika seseorang mengatakan sesuatu yang menyakitkan kepada orang lain, maka dampak menyakitkan tersebut kemungkinan tidak akan hilang begitu saja pada orang tersebut.
Komunikasi Bukan Panasea untuk Menyelesaikan Berbagai Masalah
Komunikasi saja bukanlah jalan keluar dalam menyelesaikan permasalahan. Banyak masalah dan konflik antar manusia bermula dari masalah komunikasi, akan tetapi, komunikasi bukanlah panasea (obat mujarab) yang dapat menyelesaikan konflik tersebut, karena konflik atau permasalahan tersebut bisa saja berkaitan dengan permasalahan struktural.
BAB II
KONSEP-KONSEP DASAR ORGANISASI
Definisi Organisasi
Secara harfiah, kata organisasi berasal dari bahasa Yunani “organon” yang berarti alat atau instrumen. Arti dari kata tersebut menyiratkan organisasi adalah alat bantu manusia. Sehingga dapat diartikan pula bahwa ketika seseorang mendirikan sebuah organisasi, tujuan akhirnya bukan organisasi itu sendiri melainkan agar ia dan orang yang terlibat dalam organisasi tersebut dapat mencapai tujuan bersama lebih mudah dan efektif. Hal tersebut yang membuat organisasi diartikan sebagai sekelompok orang-orang (group of people) yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama (common goals).
Menurut Stephen P. Robbins (2008), organisasi (organization) adalah sebuah unit sosial yang dikoordinasikan secara sadar, terdiri atas dua individu atau lebih, dan berfungsi dalam suatu dasar yang relatif terus-menerus guna mencapai satu atau serangkaian tujuan bersama. Berdasarkan pendapat tersebut Robbins menjelaskan bahwa sekolah, rumah sakit, gereja, unit militer, toko ritel, departemen polisi, serta agensi pemerintah lokal, negara dan federal, dan perusahaan manufaktur dan jasa merupakan sebuah organisasi.
Sejalan dengan definisi yang diberikan oleh Robbins, David Cherrington juga memberikan definisi organisasi yang hampir sama. Cherrington berpendapat bahwa organisasi merupakan sistem sosial yang mempunyai pola kerja yang teratur yang didirikan oleh manusia dan beranggotakan sekelompok manusia dalam rangka untuk mencapai satu set tujuan tertentu.
Dari banyaknya definisi organisasi, definisi-definisi tersebut dapat dirangkum menjadi satu definisi yang dengan mudah dipahami. Organisasi adalah unit sosial atau entitas sosial yang didirikan oleh manusia untuk jangka waktu yang relatif lama, beranggotakan sekelompok manusia – minimal dua orang, yang memiliki kegiatan yang terkoordinir, teratur, dan terstruktur, didirikan untuk mencapai tujuan tertentu dan mempunyai identitas diri yang membedakan satu entitas dengan entitas lainnya (Sobirin, 2009).
Elemen Organisasi
Elemen-elemen dalam organisasi merupakan determinan karakteristik organisasi dan menjadi dasar untuk menilai sosok bangunan (construct) organisasi dan membandingkan satu organisasi dengan organisasi lainnya. Pada umumnya elemen pada organisasi terbagi ke dalam dua dimensi, yakni dimensi struktural dan dimensi kontekstual. Pada dimensi struktural merupakan karakteristik atau elemen organisasi yang bersumber pada sisi internal organisasinya saja, sedangkan dimensi kontekstual merupakan karakteristik organisasi secara menyeluruh yang ditentukan oleh ukuran (besar/kecilnya) organisasi, teknologi yang digunakan, lingkungan organisasi, tujuan, dan budayanya.
Berikut adalah elemen-elemen dimensi kontekstual dalam organisasi (Sobirin, 2009):
Ukuran atau Besaran Organisasi
Pada elemen ini ditunjukan dengan jumlah karyawan yang bekerja pada sebuah organisasi. Untuk mengetahui seberapa besar sebuah organisasi kita dapat melihat dari jumlah karyawan organisasi secara keseluruhan, kemudian dapat juga dilihat dari jumlah karyawan pada bagian-bagian tertentu seperti, misalnya seberapa banyak karyawan yang bekerja di pabrik. Selain menggunakan jumlah karyawan, ukuran besaran organisasi juga dapat diketahui dari jumlah penjualan atau aset yang dimiliki oleh organisasi tersebut.
Teknologi
Teknologi adalah salah satu alat untuk merubah input menjadi output. Oleh karena itu, teknologi yang digunakan oleh sebuah organisasi biasanya berkaitan dengan sistem produksi organisasi tersebut. Semakin canggih teknologi yang digunakan, maka dapat dikatakan bahwa semakin maju juga perusahaan atau organisasinya, begitupun sebaliknya.
Lingkungan Organisasi
Lingkungan organisasi meliputi semua elemen di luar organisasi yang berpengaruh terhadap keberadaan organisasi. Termasuk dalam lingkungan organisasi misalnya: industri, pemerintah, pelanggan, pemasok, organisasi pesaing, komunitas penduduk, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi. lingkungan tersebut disebut sebagai lingkungan luar. Di samping itu, lingkungan dalam organisasi seperti tenaga kerja, dan budaya juga berpengaruh terhadap keberadaan organisasi.
Tujuan dan Strategi Organisasi
Dalam poin ini menunjukkan tujuan dan daya kompetitif sebuah organisasi. Tujuan organisasi biasanya dinyatakan secara tertulis yang mengidentifikasikan keinginan yang hendak dicapai oleh sebuah organisasi. Sementara itu, strategi organisasi adalah rencana tindakan – dalam jangka panjang, yang menjelaskan bagaimana sebuah organisasi mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya, bagaimana perubahan lingkungan organisasi dan bagaimana tujuan organisasi bisa tercapai. Tujuan dan strategi organisasi dengan demikian mencerminkan skop/lingkup kegiatan organisasi dan hubungan organisasi dengan karyawan, pelanggan, pemasok, dan kompetitor.
Budaya Organisasi
Budaya organisasi sering dipahami sebagai satu set nilai, keyakinan, pemahaman, dan norma perilaku yang dipahami dan dipraktekkan secara bersama-sama oleh karyawan.Budaya organisasi biasanya tidak tertulis, akan tetapi keberadaannya di dalam organisasi tidak bisa disangsikan. Budaya organisasi ini terkadang muncul atau dinyatakan dalam bentuk slogan, upacara-upacara yang dilakukan oleh organisasi, sejarah organisasi, cara berpakaian atau tata ruang perkantoran.
Selain dari kelima elemen di atas, adapun tiga macam elemen penting dalam sebuah organisasi menurut Andreas Budihardjo (2011) adalah sebagai berikut:
Kumpulan Manusia
Para anggota organisasi yang dikoordinasi dan dikelola agar beraktivitas secara optimal sehingga mampu mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Pengelolaan tersebut meliputi aktivitas-aktivitas antara lain, perencanaan, pengaturan, pengaktualisasian, pengendalian, dan pengevaluasian.
Batasan
Setiap organisasi memiliki batasan yang membedakan baik secara fisik maupun non-fisik dengan organisasi lainnya. Batasan ini merupakan dasar manajemen untuk melakukan rekrutmen dan seleksi anggota atau karyawan. Nilai-nilai organisasi merupakan salah satu contoh dari batasan dalam organisasi. Batasan organisasi tidak bersifat permanen, sebab hal ini dapat berubah dan dapat diubah sesuai dengan tuntutan ‘lingkungan’ dan stakeholder-nya. Sebagai contoh adalah bentuk persyaratan pekerjaan yang secara tidak langsung juga menjadi batasan dalam organisasi.
Sasaran
Setiap orang memiliki sasaran yang mengarahkan perilaku para anggotanya. Namun, organisasi tidak selalu mudah menentukan dan merumuskan sasaran tersebut secara terukur (operasional). Fakta menunjukkan bahwa banyak organisasi yang memiliki sasaran ganda (multiple goals) dimana yang satu dengan yang lain dapat saling ‘bertentangan’, misalnya sasaran memperoleh laba yang besar dengan kepuasan pelanggan.
Karakteristik Organisasi
Berikut penjelasan masing-masing karakteristik organisasi yang dirangkum dari buku karya Achmad Sobirin (2009) dan Irene Silvani (2020).
Dinamis
Organisasi sebagai suatu sistem yang terbuka terus-menerus mengalami perubahan, karena selalu menghadapi tantangan baru dari lingkungannya dan perlu menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan yang terus-menerus berubah tersebut. Kondisi ekonomi, teknologi, dan perubahan pasar menjadi beberapa penyebab terbentuknya sifat dinamis pada organisasi. Sebagai contoh, bila sebuah kedai makanan tidak lagi ramai pembeli, maka perusahaannya akan mengurangi aktivitas karyawannya atau bahkan menutup kedai tersebut.
Memerlukan Informasi
Setiap organisasi bahkan individu sekalipun pastilah membutuhkan informasi untuk hidup. Tanpa adanya informasi, maka organisasi akan kesulitan untuk bertahan dan mencapai tujuannya. Oleh karena itu, komunikasi memegang peranan penting dalam organisasi, karena informasi diperoleh melalui komunikasi. Informasi yang diperlukan dapat berupa informasi dari internal organisasi maupun eksternal organisasi.
Mempunyai Tujuan
Organisasi didirikan bukan untuk siapa-siapa dan bukan tanpa tujuan. Manusia adalah pihak yang paling berkepentingan terhadap didirikannya sebuah organisasi. Organisasi didirikan karena manusia yang kodratnya sebagai makhluk sosial, sukar untuk mencapai tujuan individualnya jika segala sesuatu harus dikerjakan perorangan. Hal tersebut bukan berarti manusia tidak dapat bekerja sendiri,tetapi akan lebih efisien ketika ada manusia lain yang membantu. Dalam hal ini, tujuan organisasi didirikan adalah agar sekelompok manusia yang bekerja dalam satu ikatan kerja lebih mudah mencapai tujuannya ketimbang mereka harus melakukan pekerjaannya sendiri-sendiri.
Berpola Kerja yang Terstruktur
Salah satu syarat atau elemen dari organisasi adalah adanya partisipan yang terdiri dari dua orang atau lebih. Tanpa koordinasi dan tidak adanya pola kerja yang terstruktur, orang orang atau sekelompok orang tersebut hanyalah sekedar kumpulan orang dan bukan organisasi.MIsalnya, saat terjadi kebakaran, banyak orang-orang yang berusaha membantu untuk memadamkan api tersebut, satu dua orang mungkin ada yang menyelamatkan barang, menolong orang yang terjebak, menyiramkan air, atau bahkan hanya melihat, namun kegiatan mereka belum cukup dikatakan sebagai tindakan organisasi karena mereka hanya sekedar bekerja bersama-sama untuk memadamkan api bukan bekerja sama dengan pola kerja yang terstruktur. Hal ini berbeda dengan organisasi yang dalam usaha mencapai tujuannya biasanya membuat aturan-aturan, undang-undang, dan hierarki hubungan dalam organisasi, ini yang dinamakan struktur organisasi.
Fungsi Organisasi
Ritonga (2019) dalam tulisannya menjelaskan, terdapat empat fungsi dari sebuah organisasi, antara lain:
Memenuhi Kebutuhan Pokok Organisasi
Setiap organisasi mempunyai kebutuhan pokok masing-masing dalam rangka kelangsungan hidup organisasi tersebut. Misalnya semua organisasi cenderung memerlukan gedung sebagai tempat beroperasinya organisasi, uang atau modal untuk biaya pekerja dan penyediaan bahan mentah atau fasilitas yang diperlukan dalam pelaksanaan, format-format dan tempat penyimpanannya, petunjuk-petunjuk dan materi tertulis yang berkenaan dengan aturan-aturan dan undang-undang dari organisasi.
Mengembangkan Tugas dan Tanggung Jawab
Organisasi harus hidup sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh organisasi maupun standar masyarakat dimana organisasi itu berada. Pada masyarakat kecil yang mempunyai perusahaan besar biasanya perusahaan itu bertanggung jawab terhadap kesejahteraan ekonomi masyarakat tersebut. Di samping adanya tanggung jawab karena adanya standar yang perlu diikuti ada pula tanggung jawab yang diberikan oleh undang-undang, kemudian organisasi harus memikirkan dan bertanggung jawab mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh organisasinya.
Memproduksi Barang atau Orang
Fungsi utama dari organisasi adalah memproduksi barang atau orang sesuai dengan jenis organisasinya. Semua organisasi mempunyai produknya masing-masing. Misalnya organisasi tekstil hasil produksinya adalah tekstil yang mungkin bermacam-macam jenis dan coraknya. Orang-orang dalam organisasi harus mendapatkan dan mengirimkan informasi kepada bagian-bagian yang memerlukannya sehingga aktivitas organisasi berjalan lancar. Penyampaian dan pemeliharaan informasi memerlukan proses komunikasi. Oleh sebab itu informasi juga tergantung kepada keterampilan berkomunikasi.
Mempengaruhi dan Dipengaruhi Orang
Organisasi digerakkan oleh orang. Orang yang membimbing, mengelola, mengarahkan dan menyebabkan pertumbuhan organisasi. Orang yang memberikan ide-ide baru, program baru dan arah yang baru. Namun, yang perlu diperhatikan adalah hal sebaliknya, dimana organisasi juga dipengaruhi oleh orang. Sukses suatu organisasi tergantung kepada kemampuan dan kualitas anggotanya dalam melakukan aktivitas organisasi. Agar suatu organisasi dapat terus berkembang organisasi hendaknya memilih anggota organisasi yang diperlukannya yang mempunyai kemampuan yang baik dalam bidangnya dan juga memberikan kesempatan kepada seluruh anggota untuk mengembangkan diri mereka masing-masing.
BAB III
PERSEPSI DAN KONSEP DASAR KOMUNIKASI ORGANISASI
Persepsi Mengenai Komunikasi Organisasi
R. Wayne Pace dan Don F. Faules (2006)
Komunikasi organisasi menurut persepsi Wayne dan Don merupakan sebuah perilaku pengorganisasian yang terjadi di dalam suatu organisasi dan bagaimana mereka yang terlibat dalam proses itu melakukan transaksi dan memberi makna atas apa yang telah terjadi.
Hugh J. Arnold dan Daniel C. Feldman (1986)
Persepsi Arnold dan Feldman tentang komunikasi organisasi adalah suatu proses pertukaran informasi di antara orang-orang yang ada di dalam sebuah organisasi, yang melalui proses atau tahapan secara umum meliputi tahapan-tahapan: attention (atensi), comprehension (komprehensi), acceptance as true (penerimaan sebagai sebuah kebenaran), dan retention (retensi atau penyimpanan).
Frank Jefkins (1983)
Komunikasi organisasi adalah suatu bentuk komunikasi yang direncanakan antara sebuah organisasi dengan publiknya atau masyarakat luas tempat ia berada untuk mencapai tujuan tertentu.
Zelko dan Dance (2006)
Komunikasi organisasi dalam persepsi Zelko adalah sebuah sistem yang saling berkaitan. Komunikasi organisasi terdiri dari komunikasi eksternal dan internal organisasi, yang berarti sasaran atau komunikan dari komunikasi ini tidak harus datang berasal dari internal organisasi tersebut.
Howard H. Greenbaum dan Raymond L. Falcione (1980)
Persepsi ini menjelaskan bahwa komunikasi organisasi adalah sebuah bentuk komunikasi yang mencakup komunikasi formal dan informal organisasi. Greenbaum menjelaskan lebih lanjut bahwa peranan komunikasi organisasi ialah sebagai sarana untuk mengkoordinasi unit-unit organisasi guna mencapai tujuan organisasi tersebut.
Gerald M. Goldhaber (1993)
Komunikasi organisasi adalah sebuah proses tukar menukar pesan dalam sebuah jaringan hubungan yang saling berkaitan satu sama lain (yang ada di dalam suatu organisasi).
Katz D. dan Kahn R.L. (1966)
Komunikasi organisasi adalah sebuah pengiriman arti dan pertukaran informasi di dalam sebuah organisasi yang membentuk suatu arus informasi. Dengan demikian, adanya komunikasi organisasi akan memunculkan jaringan informasi di dalam suatu organisasi.
Definisi dan Konsep Kunci dari Komunikasi Organisasi
Menurut Arni Muhammad (2009), komunikasi organisasi mengandung tujuh konsep kunci, yaitu sebagai berikut:
Proses
Suatu organisasi adalah suatu sistem terbuka yang dinamis, menciptakan dan saling menukar pesan di antara anggotanya, karena gejala menciptakan dan menukar informasi yang berjalan terus menerus dan tidak ada hentinya maka dikatakan sebagai suatu proses.
Pesan
Pesan adalah susunan simbol yang penuh arti tentang orang, objek, kejadian, yang dihasilkan oleh interaksi dengan orang. Untuk berkomunikasi seseorang harus sanggup menyusun suatu gambaran mental, memberi gambaran itu, dan mengembangkan suatu perasaan terhadapnya. Komunikasi tersebut efektif jika pesan yang dikirim atau dimaknai sama dengan apa yang dimaksudkan oleh pengirim. Simbol-simbol yang digunakan dalam pesan dapat berupa verbal dan nonverbal.
Jaringan
Organisasi terdiri dari beberapa orang yang setiapnya menduduki posisi atau peranan tertentu dalam organisasi. Ciptaan dan pertukaran pesan dari orang-orang ini sesamanya terjadi melalui suatu set jalan kecil yang dinamakan jaringan komunikasi.
Keadaan Saling Tergantung
Konsep kunci ini menjelaskan keadaan yang saling tergantung antara satu bagian dengan bagian yang lainnya. Hal ini telah menjadi sifat dari suatu organisasi yang merupakan suatu sistem terbuka.
Hubungan
Hubungan manusia dalam organisasi berkisar mulai dari yang sederhana yaitu hubungan antara dua orang atau lebih sampai kepada hubungan yang kompleks, yaitu hubungan dalam kelompok kecil maupun besar di dalam organisasi.
Lingkungan
Pada konsep kunci ini yang dimaksud dengan lingkungan adalah segala hal yang totalitas secara fisik dan faktor sosial yang diperhitungkan dalam pembuatan keputusan mengenai individu dalam suatu sistem. Lingkungan ini dapat dibedakan atas lingkungan internal (dalam organisasi) dan lingkungan eksternal (luar organisasi).
Ketidakpastian
Ketidakpastian adalah perbedaan informasi yang tersedia dengan informasi yang diharapkan. Untuk mengurangi faktor ketidakpastian ini organisasi menciptakan dan menukar pesan diantara anggota, melakukan suatu penelitian atau survei, pengembangan organisasi melalui evaluasi, dan menghadapi tugas-tugas yang kompleks dengan integrasi yang tinggi.
Fungsi Komunikasi Organisasi
Menurut Robbins (2008) dalam sebuah kelompok atau organisasi, komunikasi memiliki empat fungsi utama, yakni: bertindak untuk mengontrol, memotivasi, sebagai ekspresi emosional, dan pemberi informasi.
Komunikasi dengan cara-cara tertentu bertindak untuk mengontrol perilaku anggota. Organisasi memiliki hirarki otoritas dan garis panduan formal yang wajib ditaati oleh karyawan. Ketika karyawan, misalnya, diwajibkan untuk pertama-tama mengkomunikasikan segala keluhan terkait pekerjaan kepada atasan langsung mereka, untuk mengikuti deskripsi kerja mereka, atau untuk mematuhi segala kebijakan perusahaan, komunikasi sedang menjalankan fungsi kontrolnya. Tetapi, komunikasi informal juga mengontrol perilaku. Seperti, ketika kelompok kerja menggoda atau mencela salah seorang anggota lainnya yang bekerja terlalu rajin, mereka secara informal berkomunikasi dan mengontrol perilaku anggota tersebut. Komunikasi menjaga motivasi dengan cara menjelaskan kepada para anggotanya mengenai apa yang harus dilakukan, seberapa baik pekerjaan mereka, dan apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kinerja yang membuat hasilnya menjadi kurang efektif. Hal selanjutnya adalah bagi para anggota, kelompok kerja mereka adalah sumber utama sebuah interaksi sosial. Komunikasi yang terjadi dalam kelompok merupakan sebuah mekanisme fundamental yang melaluinya para anggota menunjukkan rasa frustasi dan rasa puas mereka. Sehingga, komunikasi menyediakan jalan keluar bagi ekspresi emosional dari perasaan-perasaan dan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial para anggotanya. Fungsi selanjutnya adala komunikasi berhubungan dengan perannya dalam memfasilitasi pengambilan keputusan. Komunikasi memberikan informasi yang dibutuhkan oleh individu dan kelompok untuk mengambil keputusan dengan cara menyampaikan data untuk mengidentifikasikan dan mengevaluasi berbagai pilihan alternatif yang ada.
Selain pendapat Robbins, Sendjaja dalam bukunya Teori Komunikasi (1994) juga menjelaskan empat fungsi dari komunikasi organisasi yang hampir sama.
Fungsi Informasi
Dalam fungsi informasi ini organisasi dipandang sebagai suatu sistem pengelolaan informasi yang berupaya memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dan tepat waktu. Informasi yang diperoleh oleh setiap orang dalam organisasi diharapkan akan memperlancar pelaksanaan tugas masing-masing. Melalui penyebaran informasi ini, setiap orang di dalam organisasi menjadi mengerti akan tata cara serta kebijakan yang diterapkan pimpinan.
Fungsi Regulasi
Pada fungsi ini terdapat kaitannya dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi, ada dua hal yang berperan dalam fungsi ini, yakni: (a) atasan atau orang-orang yang berapa pada pucuk pimpinan (tatanan manajemen) adalah mereka yang memiliki kewenangan untuk mengendalikan informasi; (b) berhubungan dengan pesan regulasi pada dasarnya berorientasi pada kerja artinya bawahan membutuhkan kepastian tata cara dan batasan mengenai pekerjaannya.
Fungsi Persuasi
Fungsi ini lebih dominan dimanfaatkan oleh pihak pimpinan dalam sebuah organisasi dengan tujuan untuk memperoleh dukungan dari para anggota tanpa adanya unsur paksaan maupun kekerasan. Dalam mengatur sebuah organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Adanya kenyataan ini, maka banyak pimpinan yang lebih menyukai untuk melakukan persuasi kepada bawahannya daripada memberi perintah. Pekerjaan yang dilakukan secara sukarela oleh para anggota dianggap akan menghasilkan kepedulian yang lebih besar dibandingkan dengan ketika pimpinan memberikan dan memperlihatkan kuasa dan kewenangannya.
Fungsi Integrasi
Untuk menjalankan fungsi ini, setiap organisasi berusaha untuk menyediakan saluran yang memungkinkan para anggotanya agar dapat melaksanakan tugas dan pekerjaannya dengan baik dan efektif. Ada dua saluran komunikasi yang dapat mewujudkan hal tersebut, yaitu: saluran komunikasi formal, seperti penerbit khusus dalam organisasi tersebut (newsletter, bulletin) dan laporan kemajuan organisasi; dan saluran komunikasi informal, seperti perbincangan antar pribadi saat jam istirahat. Hal yang diharapkan adalah dengan melalui media komunikasi tersebut, anggota organisasi dapat memahami setiap kebijaksanaan pimpinan, selanjutnya diharapkan mereka akan menjalankan tugas dengan baik, artinya setiap anggota organisasi tersebut akan berpartisipasi aktif dalam mewujudkan tujuan bersama dan yang utama adalah munculnya rasa memiliki terhadap organisasi.
Pendekatan Komunikasi Organisasi
Menurut Arni Muhammad, ada tiga pendekatan untuk melihat terjadinya proses komunikasi dalam sebuah organisasi, yaitu: pendekatan makro, pendekatan mikro, dan pendekatan individu.
Pendekatan Makro
Organisasi dilihat sebagai suatu struktur global yang melakukan interaksi dengan lingkungannya. Dalam proses berinteraksi, organisasi melakukan beberapa hal antara lain: (1) Organisasi melakukan aktivitas memproses informasi dari lingkungan sekitarnya. Organisasi harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya, hal ini dilakukan agar eksistensi organisasi tetap hidup. (2) Pada poin ini, organisasi harus melakukan identifikasi, karena hal tersebut merupakan salah satu hal penting yang dilakukan organisasi untuk memastikan kebenaran dan ketepatan informasi yang datang dari lingkungan organisasi, sehingga poin sebelumnya akan terjadi. (3) Melakukan kerjasama dengan organisasi lain. Organisasi yang baik akan selalu mampu melihat organisasi lain bukan sebagai pesaing negatif, akan tetapi dijadikan sebagai monitor dan cermin bagi kemajuan organisasinya. Dengan demikian, komunikasi dengan organisasi lain harus betul-betul dijaga dengan baik. (4) Terakhir, organisasi harus menetapkan tujuan. Tujuan adalah hal penting dalam organisasi. Dalam menetapkan tujuan, perlu dilakukan oegembangan informasi yang menjadi kekuatan internal dan eksternal organisasi. Informasi tersebut lalu digunakan untuk merumuskan tujuan yang akan dicapai oleh organisasi.
Pendekatan Mikro
Fokus pendekatan ini adalah komunikasi di dalam unit dan juga subunit dari sebuah organisasi. Oleh karena itu, hal yang diperlukan adalah beberapa proses komunikasi yang diantaranya adalah: (1) Komunikasi dalam rangka pemberian pelatihan. Pelatihan ini diberikan guna meningkatkan kualitas dan profesionalisme bekerja, dimana kualitas anggota menjadi penentu majunya organisasi. Keberhasilan dari pelatihan ini juga ditentukan dengan komunikasi yang baik yang dilakukan oleh pimpinan. (2) Komunikasi pemberdaya anggota.Pimpinan yang berhasil adalah pimpinan yang berhasil adalah pimpinan yang mampu memberdayakan anggotanya secara manusiawi, dan menghargai setiap proses dan hasil kerja yang dilakukan para anggota dengan sangat baik, dan memotivasi para anggotanya. (3) Komunikasi untuk menentukan iklim organisasi atau komunikasi yang baik antara pimpinan dan bawahan. Jika iklim tersebut telah diciptakan, maka akan muncul semangat kerja sehingga anggota dapat bekerja lebih produktif. (4) Komunikasi dalam rangka supervisi dan pengarahan. Pimpinan bertugas untuk mengetahui sejauh mana tingkat produktivitas dan efektivitas para anggotanya. Oleh karena itu, pimpinan wajib memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. (5) Komunikasi untuk kepuasan kerja. Terjalinnya komunikasi yang harmonis akan menimbulkan semangat anggota untuk melakukan pekerjaan terbaik. Dengan demikian, akan menghasilkan kualitas yang baik pula.
Pendekatan Individu
Pada pendekatan ini, para anggota harus melakukan aktivitas komunikasi yang dilakukan oleh dirinya sendiri terhadap orang lain agar dapat mengetahui sejauh mana anggota dapat berinteraksi dengan orang lain. (1) Berkomunikasi Kepada satuan kerja. Sesama anggota dalam satu organisasi pastilah melakukan interaksi, maka dari itu, perlu bagi seorang anggota untuk membekali dirinya dengan kemampuan berkomunikasi yang baik antara sesama agar tercipta suasana kerja yang nyaman dan kondusif. (2) Berkomunikasi dalam pertemuan rapat. Keterampilan dan kecerdasan berkomunikasi setiap anggota dalam rapat sangat diperlukan sebagai bentuk partisipasi aktif dengan memberikan saran, masukan ide, dan gagasan demi kemajuan organisasi. (3) Menulis. Ide dan gagasan seringkali disampaikan secara tertulis kemudian dipresentasikan di hadapan orang lain. Oleh karena itu, hal selanjutnya yang perlu dimiliki oleh setiap anggota adalah kemampuan menulis yang baik. (4) Kemampuan berdebat. Perbedaan pendapat merupakan hal yang lumrah dalam sebuah organisasi, hal ini memicu pertentangan dan suasana yang tidak kondusif. Maka, anggota perlu mempelajari bagaimana cara berdebat atau berargumen dengan baik, bijak, dan tetap menghargai pendapat orang lain.
BAB IV
TEORI-TEORI ORGANISASI
Pengertian Teori Organisasi
Sebelum memasuki pembahasan mengenai teori komunikasi, perlu bagi kita mengetahui konsep dasar teori. Menurut Donald J. Willower (1992:4), yang dimaksud dengan teori adalah tubuh yang saling berinteraksi satu dengan yang lain dengan penjelasan yang tetap konsisten.
Teori adalah pendapat yang dikumpulkan sebagai keterangan mengenai suatu peristiwa dan merupakan seperangkat hipotesis yang saling berkaitan atau pernyataan mengenai suatu gejala atau seperangkat gejala (Shaw dan Costanzo, 1970). Teori organisasi menurut Stephen P. Robbins (1994) adalah teori yang mengkaji struktur, fungsi, dan performansi organisasi serta perilaku kelompok dan individu di dalamnya guna mencapai tujuan yang kompleks. Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar sebuah batasan yang relatif terus-menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan. Teori organisasi sebagai disiplin ilmu menjelaskan tentang struktur organisasi yang dapat digunakan guna mencapai keefektifan organisasi. Tidak ada satu bentuk struktur yang paling baik dan efektif untuk semua organisasi, akan tetapi dapat memberikan acuan untuk manajer atau pimpinan yang menentukan struktur organisasi yang dipilih.
Teori Klasik
Pada tahun 1800-an konsep-konsep mengenai organisasi sudah mulai bermunculan hingga saat ini konsep tersebut dikenal sebagai konsep klasik. Pada bagian ini akan banyak ditemukan pandangan-pandangan mengenai konsep klasik dari sebuah organisasi oleh para ahli.
Salah satu pandangan klasik tentang organisasi ini dinyatakan oleh Max Weber dengan mendemonstrasikan pendapatnya mengenai birokrasi. Hasil dari pendapat Weber pun merupakan perluasan teori dari penggagas pendahulu. Pada perluasan tersebut, Weber membedakan suatu kelompok kerja sama, dengan organisasi kemasyarakatan. Menurutnya kelompok kerja sama adalah suatu tata hubungan sosial yang dihubungkan dan dibatasi oleh aturan-aturan, dimana aturan-aturan tersebut mungkin dapat memaksa seseorang untuk melakukan kerja, baik dilakukan pimpinan maupun bawahan lainnya. Aspek dari definisi yang dikemukakan Weber ini memiliki unsur-unsur sebagai berikut:
Organisasi merupakan tata hubungan sosial, dalam hal ini seorang individu melakukan proses interaksi sesamanya di dalam organisasi tersebut.
Organisasi memiliki batasan-batasan tertentu (boundaries), dengan demikian seseorang yang melakukan hubungan interaksi dengan yang lainnya tidak atas dasar kemauan dari dirinya sendiri, melainkan dibatasi oleh aturan-aturan tertentu.
Organisasi merupakan suatu kumpulan tata aturan, yang dapat membedakan antara suatu organisasi dengan kumpulan-kumpulan kemasyarakatan. Tata aturan ini menyusun proses interaksi di antara orang-orang yang bekerja sama di dalamnya, sehingga interaksi tersebut tidak muncul begitu saja.
Organisasi merupakan suatu kerangka hubungan yang terstruktur, di dalamnya berisi wewenang, tanggung jawab, dan pembagian kerja untuk menjalankan suatu fungsi tertentu. Istilah lain dari unsur ini adalah terdapatnya hierarki. Konsekuensi dari adanya hierarki ini adalah di dalam organisasi terdapat pimpinan atau kepala dan bawahan atau staf.
Teori Hubungan
Teori selanjut nya adalah teori hubungan yang memiliki beberapa sebutan seperti teori hubungan manusia atau teori human relations atau teori transisional. Gagasan mengenai teori hubungan manusia dalam komunikasi organisasi oleh Elton Mayo lewat eksperimennya yang dikenal dengan the Hawthorne Studies. Mayo membuat kesimpulan dari hasil eksperimen bahwa faktor yang paling berpengaruh pada produktivitas kerja karyawan adalah hubungan antar karyawan. Produktivitas kerja karyawan akan meningkat sebab hubungan antar karyawan yang baik dan menjadi bagian tim pendukung dimana masing masing karyawan mempunyai efek yang signifikan pada hasil kerja tim. Mayo juga menegaskan bahwa hubungan sosial dalam kelompok kerja merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi kepuasan para pekerja atas pekerjaannya.
Pada teori ini Elton Mayo memberikan beberapa sumbangan pemikiran dan hipotesisnya, antara lain:
Secara eksplisit, teori ini pertama kali mengenalkan peranan dan pentingnya hubungan interpersonal dalam perilaku kelompok.
Secara kritis menguji kembali hubungan antara gaji dan motivasi.
Mempertanyakan anggapan bahwa masyarakat merupakan kelompok individu yang berusaha untuk memaksimalkan pemenuhan kepentingan personalnya.
Menunjukkan bagaimana sistem teknis dan sistem sosial saling berhubungan.
Menunjukkan hubungan antara kepuasan kerja dan produktivitas manajemen organisasi.
Namun, disamping sumbangsihnya, Elton Mayo menyadari teori ini memiliki kelemahan sebagai berikut.
Mengesampingkan pengaruh struktur organisasi terhadap perilaku individu.
Memandang organisasi sebagai sistem tertutup dan mengabaikan kekuatan lingkungan politik, ekonomi, dan sebagainya.
Tidak menjelaskan pengaruh kesehatan kerja terhadap sikap dan perilaku individu.
Meremehkan motivasi keinginan untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan dan kesadaran sendiri berkaitan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan.
Memusatkan perhatian pada pengaruh kelompok kecil, tetapi mengabaikan pengaruh struktur sosial yang lebih luas.
Teori Motivasi
Perilaku manusia itu hakikatnya adalah berorientasi pada tujuan atau dengan kata lain perilaku seseorang itu pada umumnya dirangsang oleh keinginan untuk mencapai beberapa tujuan. Adapun motivasi seseorang ini tergantung pada kekuatan dari motivasinya itu sendiri. Dorongan ini yang menyebabkan mengapa seseorang itu berusaha mencapai tujuan-tujuan, baik sadar ataupun tidak sadar. Dorongan ini pula yang menyebabkan seseorang itu berperilaku, yang dapat mengendalikan dan memelihara kegiatan-kegiatan, dan yang menetapkan arah umum yang harus ditempuh oleh seseorang tersebut. Sebagian dari teori-teori paling lazim mengenai motivasi merujuk pada kebutuhan sebagai kekuatan pendorong perilaku manusia (Roskina & Haris, 2020).
Abraham Maslow telah mengembangkan suatu konsep teori motivasi yang dikenal dengan hierarki kebutuhan (hierarchy of needs). Menurut Maslow, nampaknya ada semacam hierarki yang mengatur dengan sendirinya kebutuhan-kebutuhan manusia ini. Hierarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut:
Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan ini adalah kebutuhan biologis atau kebutuhan pokok. Mereka terdiri dari kebutuhan oksigen, sandang, pangan, papan, dan suhu tubuh relatif konstan. Mereka adalah kebutuhan kuat karena jika seseorang tidak diberi semua kebutuhan, fisiologis yang akan datang pertama dalam pencarian seseorang untuk kepuasan.
Kebutuhan Keamanan
Ketika semua kebutuhan fisiologis puas dan tidak mengendalikan pikiran lagi dan perilaku, kebutuhan keamanan dapat menjadi aktif. Hierarki kebutuhan ini menjelaskan bahwa manusia memiliki hak untuk merasa aman dan diberi pengamanan. Maka, kebutuhan pada tingkat ini akan berjalan beriringan dengan kebutuhan pokok. Karena dengan terpenuhinya kebutuhan pokok manusia juga akan merasa aman.
Kebutuhan Cinta, Sayang, dan Kepemilikan
Ketika kebutuhan untuk keselamatan dan kesejahteraan fisiologis puas, kelas berikutnya kebutuhan untuk cinta, sayang dan kepemilikan dapat muncul. Maslow menyatakan bahwa orang mencari untuk mengatasi perasaan kesepian dan keterasingan. Ini melibatkan kedua dan menerima cinta, kasih sayang dan memberikan rasa memiliki.
Kebutuhan Esteem (Ego)
Ketika tiga kelas pertama kebutuhan dipenuhi, kebutuhan untuk harga bisa menjadi dominan. Ini melibatkan kebutuhan baik harga diri dan untuk seseorang mendapat penghargaan dari orang lain. Manusia memiliki kebutuhan untuk tegas, berdasarkan, tingkat tinggi stabil diri, dan rasa hormat dari orang lain. Ketika kebutuhan ini terpenuhi, orang merasa percaya diri dan berharga sebagai orang di dunia. Ketika kebutuhan frustasi, orang merasa rendah, lemah, tak berdaya dan tidak berharga.
Kebutuhan Aktualisasi Diri
Ketika semua kebutuhan di atas terpenuhi, maka dan hanya maka adalah kebutuhan untuk aktualisasi diri diaktifkan. Maslow menggambarkan aktualisasi diri sebagai orang perlu untuk menjadi dan melakukan apa yang orang itu “lahir untuk dilakukan”. “Seorang musisi harus bermusik, seniman harus melukis, dan penyair harus menulis”. Kebutuhan ini membuat diri mereka merasa dalam tanda-tanda kegelisahan. Orang itu merasa di tepi, tegang, kurang sesuatu, singkatnya, gelisah. Jika seseorang lapar, tidak aman, tidak dicintai atau diterima, atau kurang harga diri, sangat mudah untuk mengetahui apa orang itu gelisah tentang. Hal ini tidak selalu jelas apa yang seseorang ingin ketika ada kebutuhan untuk aktualisasi diri.
Dari keberadaan teori motivasi Maslow bukanlah jawaban akhir dari pembahasan mengenai motivasi. Walaupun demikian model Maslow memberikan kontribusi yang besar terutama kesadaran manajemen bahwa terdapat perbedaan-perbedaan kebutuhan di antara orang-orang dalam satu organisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Adawiyah, S. E. (2020). HUMAN RELATIONS. Edu Pustaka.
Adryanti, S. L., & Aulia, S. S. (2022). Komunikasi. Global Eksekutif Teknologi.
Atmaja, S., & Dewi, R. (2018). Komunikasi Organisasi (Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis). Jurnal Komunikasi, 3.
Budihardjo, A., & Publishing, P. M. (2011). Organisasi: Menuju Pencapaian Kinerja Optimum. Prasetiya Mulya.
Chamidi, A. S. (2022). Elemen-Elemen Organisasi bagi Pengembangan Perguruan Tinggi Swasta di Era Disruptif. Jurnal Kajian Studi Manajemen Pendidikan Islam dan Studi Sosial, 6.
Effendhie, M. (n.d.). Pengantar Organisasi. In Organisasi Tata Laksana Dan Lembaga Kearsipan.
Gani, N. A., Utama, R. E., Jaharuddin, & Priharta, A. (2020). Perilaku Organisasi. Mirqat.
Handayani, R., ramadini, I., & Fadriyanti, Y. (2023). Konsep Dasar Komunikasi Terapeutik, Manajemen Stres Kerja, dan Caring dalam Keperawatan. Penerbit NEM.
Hidayah, N. (2022). KOMUNIKASI ORGANISASI: Implikasi Teori Organisasi Bagi Komunikasi Organisasi. Akademia Pustaka.
Jaelani. (2021). Teori Organisasi. Yayasan Prima Agus Teknik.
Jumrad, O. T., & Sari, I. D. M. (2019). Fungsi Komunikasi Dalam Organisasi Melalui Group Chat WhatsApp Oriflame. Jurnal Common, 3.
Milyane, T. M., Umiyati, H., Putri, D., Juliastuti, Akib, S., Daud, R. F., Dawami, Rosemary, R., Athalarik, F. M., Adiarsi, G. R., Puspitasari, M., Andi, Ramadhani, M. M., & Rochmansyah, E. (2022). PENGANTAR ILMU KOMUNIKASI. Penerbit Widina.
Mulyana, D. (2000). Ilmu komunikasi: suatu pengantar. Remaja Rosdakarya.
Nainggolan, N. T., Mawati, A. T., Gandasari, D., Ardiana, D. P. Y., Purba, B., Kato, I., Silalahi, M., Purba, S., Rahayu, P. P., Damayanti, W. K., Firdaus, E., & Simarmata, M. M. (2021). Komunikasi Organisasi: Teori, Inovasi dan Etika. Yayasan Kita Menulis.
Nurdin, A., Moefad, A. M., Zubaidi, A. N., & Harianto, R. (2013). Pengantar Ilmu Komunikasi. IAIN Sunan Ampel Press.
Rahmanto, A. F. (2004). Peranan Komunikasi Dalam Suatu Organisasi. Jurnal Komunikologi, 1.
Riana, N., Purwani, F. E., Shop Mayanti, N. A., Rahel, T. L., Sugihanawati, A., Rahma, N., Nahdiana, Herlinah, Sabaruddin, & Nurbaiti. (2023). Buku Ajar Pengantar Ilmu Komunikasi. Sonpedia Publishing Indonesia.
Ritonga, E. Y. (2019). KOMUNIKASI ORGANISASI.
Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2008). Perilaku Organisasi 1 (ed. 12) HVS. Penerbit Salemba.
Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2008). Perilaku Organisasi 2 (ed. 12) HVS (12th ed.). Penerbit Salemba.
Roskina, S., & Haris, I. (2020). Komunikasi Dalam organisasi (Teori Dan Aplikasi). UNG Press.
Silviani, I. (2020). Komunikasi Organisasi. Scopindo Media Pustaka.
Siregar, R. T., Enas, U., Putri, D. E., Hasbi, I., Ummah, A. H., Arifudin, O., Hanika, I. M., Zusrony, E., Chairunnisah, R., Ismainar, H., Syamsuriansyah, Bairizki, A., Lestari, A. S., & Utami, M. M. (2021). Komunikasi Organisasi. Widina Bhakti Persada.
Sitepu, Y. S. (2011). Paradigma dalam Teori Organisasi dan Implikasinya pada Komunikasi Organisasi. Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Pranata Sosial, 1.
Sobirin, A. (2009). Budaya Organisasi : Pengertian, Makna, dan Aplikasinya dalam Kehidupan Organisasi. UPP STIM YKPN.
Syukran, M., Agustang, A., Idkhan, A. M., & Rifdan. (2022). Konsep Organisasi dan Pengorganisasian dalam Perwujudan Kepentingan Manusia. Jurnal Manajemen Sumber Daya Manusia, Administrasi dan Pelayanan Publik, 9.
Thoha, M. (2005). Perilaku organisasi. PT RajaGrafindo Persada.
West, R., & Turner, L. H. (2008). Pengantar Teori Komunikasi 1. Penerbit Salemba.
Wijaya, H., Rosyadi, A., Kurniawan, K., Putri, W. C. C., Praditasari, A. L., Pranawati, E., Octavia, D. R., Setiadi, F., Mahbub, K., Oktifiani, Y., Alfianna, W., & Hanifah, R. (2023). KOMUNIKASI FARMASI : Komunikasi Yang Efektif Dalam Praktik Farmasi. PT. Sonpedia Publishing Indonesia.
Winardi, J. (2006). Teori Organisasi Dan Pengorganisasian. Raja Grafindo Persada.
Zega, Y. (2021). PENGARUH PENGORGANISASIAN TERHADAP PENINGKATAN KINERJA APARATUR PERANGKAT DESA DI DESA ALO’OA KECAMATAN TUHEMBERUA KABUPATEN NIAS UTARA. Jurnal EMBA, 9.
Kerenn ulasan isinya dan penjelasan di dalam nya
BalasHapuslengkaaap sekaliii🤩
BalasHapusbacanya sambil nungguin tukang kacang rebus😹
BalasHapuskeren euyy
BalasHapus